Back to Blog
Aug 5, 202613 min read

Cara Menentukan Fitur MVP untuk Aplikasi dan Bisnis Digital

Tirta Afandi
Tirta Afandi
@kikuk_afandi

Belakangan ini istilah MVP semakin sering digunakan ketika seseorang ingin membangun bisnis digital. Hampir setiap ide aplikasi disebut akan dimulai dari MVP, seolah-olah selama fiturnya sedikit, tampilannya sederhana, dan aplikasinya sudah bisa dibuka, berarti produk tersebut sudah layak disebut MVP.

Mungkin tulisan ini akan agak lebih panjang jadi semoga teman-teman betah membaca yaa wkwk

Sebagai developer, menurutku pemahaman seperti ini perlu diluruskan.

MVP memang tidak harus sempurna. Tidak harus memiliki desain yang sangat mewah, fitur yang banyak, sistem yang kompleks, atau infrastruktur sebesar produk yang sudah memiliki ribuan pengguna.

Namun, MVP juga bukan aplikasi setengah jadi.

MVP adalah versi paling sederhana dari sebuah produk yang tetap mampu menyelesaikan satu masalah utama pengguna secara utuh. Kata “minimum” di dalam MVP merujuk pada jumlah fitur yang dibatasi, bukan pada kualitas sistem yang boleh dibuat sembarangan.

Sebuah MVP tidak harus mengerjakan banyak hal, tetapi hal utama yang dijanjikan harus benar-benar bisa dilakukan.

Kalau produknya adalah aplikasi pemesanan jasa, pengguna minimal harus bisa menemukan layanan, memilih layanan, membuat pesanan, dan mendapatkan kepastian bahwa pesanannya tercatat.

Kalau produknya adalah sistem kasir, pengguna minimal harus bisa memilih barang, menghitung transaksi, menyimpan pembayaran, dan melihat hasil transaksi tersebut.

Kalau produknya adalah platform belajar, pengguna minimal harus bisa melihat materi, mengakses materi yang sesuai, dan melanjutkan proses belajarnya tanpa kebingungan.

MVP yang layak bukan tentang seberapa banyak halaman yang sudah dibuat. Yang lebih penting adalah apakah satu alur utama dari awal sampai akhir sudah benar-benar selesai.

Mulai dari Masalah, Bukan dari Daftar Fitur

Kesalahan yang cukup sering terjadi ketika membangun produk digital adalah memulai pembicaraan dari fitur.

Pemilik bisnis datang dengan daftar seperti:

  • harus ada login;
  • harus ada dashboard;
  • harus ada chat;
  • harus ada pembayaran;
  • harus ada notifikasi;
  • harus ada laporan;
  • harus ada AI;
  • dan harus ada aplikasi mobile.

Daftar tersebut terlihat seperti kebutuhan produk, padahal belum tentu semuanya benar-benar dibutuhkan.

Sebelum membahas fitur, developer seharusnya memahami masalah bisnis yang ingin diselesaikan.

Siapa penggunanya?

Masalah apa yang mereka alami?

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah tersebut saat ini?

Apa bagian yang paling lambat, paling mahal, paling membingungkan, atau paling sering menyebabkan kesalahan?

Hasil apa yang ingin dicapai setelah sistem digunakan?

Dari pertanyaan tersebut, barulah fitur dapat ditentukan.

Karena pada akhirnya, fitur hanyalah alat. Yang menjadi tujuan utama tetap penyelesaian masalah.

Sebuah produk tidak otomatis menjadi lebih baik hanya karena memiliki lebih banyak fitur. Dalam banyak kasus, terlalu banyak fitur sejak awal justru membuat pengembangan semakin lama, biaya semakin besar, proses pengujian semakin sulit, dan produk tidak kunjung digunakan.

MVP Harus Memiliki Satu Alur Utama yang Selesai

Menurutku, cara paling sederhana untuk menilai kelayakan sebuah MVP adalah dengan melihat apakah produk tersebut sudah memiliki satu alur utama yang lengkap.

Alur ini biasa disebut sebagai core flow atau happy path, yaitu jalur utama yang ditempuh pengguna untuk mendapatkan manfaat dari produk.

Sebagai contoh, bayangkan sebuah platform pemesanan jasa.

Alur utamanya mungkin seperti ini:

Memuat diagram…

MVP tidak harus langsung memiliki voucher, referral, loyalty point, live tracking, rekomendasi AI, atau puluhan metode pembayaran.

Namun, alur dari pengguna memilih layanan sampai pesanan tercatat dan diproses harus jelas.

Kalau pengguna sudah bisa membuat pesanan, tetapi penyedia jasa tidak mengetahui ada pesanan baru, berarti alurnya belum selesai.

Kalau pembayaran berhasil, tetapi status pesanannya tidak berubah, berarti alurnya belum selesai.

Kalau admin harus memperbaiki data secara manual setiap kali ada transaksi, berarti sistem tersebut belum benar-benar siap digunakan.

Inilah perbedaan antara aplikasi yang sekadar terlihat berjalan dengan produk yang memang sudah menyelesaikan kebutuhan bisnis.

Fitur Minimum Bukan Berarti Semua Dibuat Seminimal Mungkin

Ketika mendengar kata minimum, sebagian orang langsung berpikir bahwa semua bagian boleh dibuat seadanya.

Menurutku tidak seperti itu.

Yang dibuat minimum adalah cakupan produknya. Sementara bagian yang termasuk dalam alur utama tetap harus dibuat dengan layak.

Kalau login memang dibutuhkan, proses login harus dapat digunakan dengan benar.

Kalau sistem menyimpan transaksi, data transaksi harus konsisten.

Kalau sistem menerima pembayaran, status pembayaran harus jelas dan dapat diverifikasi.

Kalau sistem menyimpan data pelanggan, akses datanya harus dibatasi.

Kalau terjadi kegagalan, pengguna harus mendapat informasi yang cukup tentang apa yang harus dilakukan.

Jadi, kita bisa mengurangi fitur, tetapi tidak seharusnya mengurangi tanggung jawab terhadap fitur yang sudah dipilih.

Misalnya, sebuah marketplace versi MVP mungkin belum membutuhkan:

  • sistem poin;
  • fitur langganan;
  • dompet digital internal;
  • multi-bahasa;
  • rekomendasi berbasis AI;
  • aplikasi Android dan iOS;
  • atau dashboard analitik yang sangat lengkap.

Namun, marketplace tersebut tetap membutuhkan proses dasar yang jelas, seperti:

  • pengguna dapat menemukan produk atau layanan;
  • informasi produk dapat dipahami;
  • pesanan dapat dibuat;
  • status pesanan dapat diketahui;
  • penjual dapat memproses pesanan;
  • dan admin dapat menangani masalah dasar.

Fitur boleh sedikit, tetapi fungsi utamanya tidak boleh setengah-setengah.

MVP Harus Menghasilkan Pembelajaran

Tujuan MVP bukan hanya agar pemilik bisnis bisa mengatakan bahwa produknya sudah selesai dibuat.

MVP seharusnya digunakan untuk menguji sesuatu.

Apakah masalah yang diasumsikan benar-benar dirasakan pengguna?

Apakah pengguna tertarik menggunakan solusi tersebut?

Apakah mereka memahami alurnya?

Apakah mereka bersedia membayar?

Bagian mana yang paling sering digunakan?

Bagian mana yang membuat pengguna berhenti?

Apakah proses yang dibuat benar-benar lebih baik daripada cara sebelumnya?

Kalau sebuah MVP sudah selesai dibangun, tetapi tidak ada hal yang ingin dipelajari dari pengguna, bisa jadi sejak awal tujuannya memang belum jelas.

Alurnya kurang lebih seperti ini:

Memuat diagram…

Dari sini terlihat bahwa MVP bukan akhir dari proses pengembangan.

MVP adalah alat untuk mengurangi ketidakpastian.

Daripada menghabiskan waktu berbulan-bulan membangun semua fitur berdasarkan asumsi, lebih baik menyelesaikan satu versi kecil, menggunakannya bersama pengguna nyata, lalu melihat apa yang benar-benar terjadi.

Tidak Semua Proses Harus Langsung Diotomatisasi

Ada anggapan bahwa MVP harus langsung serba otomatis agar terlihat profesional.

Padahal, dalam tahap awal, beberapa proses masih boleh dilakukan secara manual selama pengguna tetap mendapatkan pengalaman yang baik dan proses tersebut masih dapat dikendalikan.

Misalnya, verifikasi pengguna masih dilakukan oleh admin.

Pencairan dana masih diproses secara berkala.

Laporan tertentu masih dibuat dari dashboard sederhana.

Pemberitahuan tertentu masih dibantu melalui WhatsApp atau email.

Pendekatan manual seperti ini kadang justru membantu bisnis memahami prosesnya sebelum membangun otomatisasi yang lebih kompleks.

Namun, ada perbedaan antara proses manual yang memang direncanakan dengan sistem yang rusak lalu terus-menerus ditambal secara manual.

Proses manual masih layak digunakan apabila:

  • volumenya masih rendah;
  • risikonya masih dapat dikendalikan;
  • pengguna tidak dirugikan;
  • ada prosedur yang jelas;
  • dan proses tersebut digunakan untuk belajar sebelum otomatisasi dibuat.

Kalau setiap transaksi harus diperbaiki langsung di database, status pesanan sering tidak sinkron, atau admin harus menebak apa yang terjadi di dalam sistem, itu bukan lagi strategi MVP. Itu tanda bahwa alur utamanya belum dibuat dengan benar.

Hal Dasar yang Tetap Harus Ada

Walaupun masih MVP, ada beberapa hal dasar yang menurutku tetap perlu dipikirkan sejak awal.

Pertama adalah struktur data.

Developer harus mengetahui data apa yang disimpan, hubungan antar-data, serta apa yang terjadi ketika data diperbarui atau dihapus.

Kedua adalah hak akses.

Tidak semua pengguna boleh melihat dan mengubah data yang sama. Pengguna biasa, penyedia layanan, admin, dan pemilik sistem biasanya memiliki kebutuhan akses yang berbeda.

Ketiga adalah penanganan error.

Sistem harus memiliki respons yang jelas ketika sesuatu gagal. Jangan sampai pengguna sudah menekan tombol pembayaran, tetapi tidak mengetahui apakah transaksinya berhasil atau tidak.

Keempat adalah keamanan dasar.

MVP memang belum membutuhkan sistem keamanan kelas perusahaan besar, tetapi password, data pribadi, file, token, dan akses admin tetap tidak boleh diperlakukan sembarangan.

Kelima adalah monitoring dan pencatatan.

Ketika ada masalah, developer perlu memiliki cara untuk mengetahui apa yang terjadi. Tanpa log dan informasi dasar, setiap error akan sulit dicari penyebabnya.

Keenam adalah backup.

Kalau data tersebut penting untuk operasional bisnis, harus ada cara untuk memulihkannya ketika terjadi masalah.

Hal-hal ini sering tidak terlihat oleh pengguna, tetapi justru menjadi bagian penting yang membedakan produk digital dengan sekadar demo aplikasi.

Flowchart Penentuan Fitur MVP

Ketika menentukan apakah sebuah fitur perlu masuk ke MVP atau tidak, aku biasanya melihat hubungan fitur tersebut dengan masalah utama dan alur inti produk.

Memuat diagram…

Flowchart ini bukan aturan mutlak, tetapi cukup membantu agar pembahasan tidak terus melebar.

Setiap fitur yang terdengar menarik belum tentu penting.

Setiap fitur yang digunakan kompetitor juga belum tentu diperlukan.

Setiap ide yang secara teknis bisa dibuat juga belum tentu layak dibangun sekarang.

Developer harus mampu membantu bisnis membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan fitur yang sebenarnya hanya menambah kompleksitas.

Kapan MVP Bisa Disebut Layak Digunakan?

Menurutku, sebuah MVP sudah cukup layak ketika beberapa kondisi berikut terpenuhi.

Masalah yang ingin diselesaikan sudah jelas.

Target pengguna awal sudah ditentukan.

Satu alur utama dapat diselesaikan dari awal sampai akhir.

Data penting tersimpan dengan benar.

Hak akses dasar sudah diterapkan.

Kegagalan utama sudah ditangani.

Pengguna dapat memahami apa yang harus dilakukan.

Admin atau operator dapat menjalankan proses bisnisnya.

Produk dapat digunakan untuk mengumpulkan pembelajaran nyata.

Dan yang tidak kalah penting, developer memahami struktur sistem yang dibuat dan dapat melanjutkan pengembangannya.

MVP tidak harus sempurna. Masih boleh ada keterbatasan. Masih boleh ada proses manual. Masih boleh ada desain yang belum maksimal.

Namun, keterbatasannya harus diketahui dan direncanakan.

Bukan ditemukan secara tidak sengaja ketika produk sudah digunakan.

Peran Developer dalam Membangun MVP

Menurutku, developer tidak seharusnya hanya bertugas menunggu daftar fitur dari klien.

Developer juga harus membantu mempertanyakan kebutuhan.

Apa alasan fitur tersebut dibuat?

Siapa yang akan menggunakannya?

Apa yang terjadi kalau fitur tersebut belum ada?

Apakah ada cara yang lebih sederhana?

Apa risikonya?

Bagaimana sistem akan digunakan setelah selesai?

Kadang keputusan terbaik dalam sebuah proyek bukan menambahkan fitur, tetapi menghapus fitur.

Kadang solusi terbaik bukan langsung membuat aplikasi mobile, tetapi memulai dari web.

Kadang bisnis tidak membutuhkan sistem pembayaran otomatis pada tahap pertama.

Kadang proses yang dianggap membutuhkan AI sebenarnya cukup diselesaikan dengan form, dashboard, dan aturan bisnis yang jelas.

Developer yang baik bukan developer yang selalu mengatakan semua hal bisa dibuat.

Developer yang baik juga perlu mengatakan kapan sesuatu belum perlu dibuat.

Karena tujuan pengembangan bukan membuat sistem sebesar mungkin. Tujuannya adalah membuat sistem yang cukup kecil untuk diselesaikan, tetapi cukup berguna untuk digunakan.

Penutup

Sebagai developer, aku melihat MVP bukan sebagai alasan untuk membuat produk dengan kualitas seadanya.

MVP adalah cara untuk menjaga produk tetap fokus.

Kita memilih satu masalah utama, membuat satu alur yang benar-benar selesai, menggunakannya bersama pengguna nyata, lalu belajar dari hasilnya.

AI bisa membantu mempercepat banyak bagian dalam proses tersebut. AI bisa membantu membuat rancangan, menulis kode, mencari error, atau mengeksplorasi solusi.

Namun, tetap dibutuhkan seseorang yang memahami bagaimana kebutuhan bisnis diterjemahkan menjadi sistem.

Karena aplikasi yang terlihat jadi belum tentu benar-benar siap digunakan.

Dan MVP yang layak bukan MVP yang memiliki banyak fitur, melainkan MVP yang memiliki satu manfaat utama, satu alur yang selesai, serta fondasi yang cukup baik untuk dilanjutkan.

Tags

Engineering

Enjoyed this article?

Check out more writings

Back to Overview