Gara-gara Config SSH, Aku Jadi Software Engineer (Jalur Fakir Kuota)
Kalau ada yang tanya kenapa aku bisa terjun ke dunia software engineering, mungkin jawaban idealisnya adalah: "Karena saya ingin mengubah dunia dengan teknologi."
Tapi realitanya? Karena aku miskin kuota.
Iya, serius. Karir kodingku tidak dimulai dari macbook canggih di kedai kopi estetik, melainkan dari bilik warnet yang berisik dan perjuangan mencari celah internet gratisan di tengah malam.
The "Phreaking" Era: Koding Demi Internet Gratis
Mundur ke masa SD, aku adalah tipikal anak warnet. Tapi uang jajan anak SD tentu terbatas. Di saat teman-teman lain pusing mikirin rank game online, aku pusing mikirin gimana caranya tetap bisa online saat kuota habis.
Masuklah aku ke dunia "bawah tanah" bernama SSH & Config.
Demi internet gratis, aku rela begadang bukan buat main game, tapi buat ngulik payload, bikin akun SSH 7 hari, dan mencari bug operator. Tanpa sadar, aktivitas itu melatih logika dasarku: trial and error, memahami protokol jaringan, dan memecahkan masalah sistem.
Dari Config ke <HTML>
Fase berburu gratisan itu membawaku ke platform Blogger. Awalnya cuma iseng, tapi lama-lama aku mulai kepo:
"Ini tampilan web kok bisa diubah-ubah ya? Apa yang terjadi kalau kode ini aku hapus?"
Rasa penasaran itu membawaku ke fitur Edit HTML di Blogger. Di sanalah aku pertama kali melihat kode. Rasanya seperti melihat sihir. Bermodal tutorial YouTube (dengan resolusi 360p demi hemat kuota), aku mulai belajar Web Development secara otodidak sejak SD.
Aku merasa keren bisa mengubah warna background atau nambahin widget jam di blog. Rasanya dunia ada di genggaman.
Sampai akhirnya aku bertemu "tembok" besar bernama: JavaScript.
Kena Mental & Pelarian ke Media
Jujur, transisi dari HTML/CSS ke JavaScript itu rasanya seperti ditampar realita. Logikanya rumit, error-nya bikin frustasi, dan otak anak SD/SMP-ku waktu itu belum nyampe.
Aku stuck. Bingung. Dan akhirnya... menyerah. 😅
"Kayaknya koding bukan buat aku deh," pikirku waktu itu.
Aku pun mencoba banting setir. Aku mulai eksplorasi ke dunia Media dan Kreatif. Fotografi, desain grafis, videografi—semua aku coba. Aku berpikir mungkin jiwaku lebih ke arah visual.
Tapi setelah dijalani, aku sadar satu hal yang menyakitkan: Aku nggak punya bakat seni.
Setiap kali disuruh bikin desain, hasilnya kaku. Setiap kali disuruh memadukan warna, hasilnya aneh. Aku sadar, aku nggak punya "rasa" visual yang kuat. Aku nggak bisa menerjemahkan ide abstrak menjadi gambar yang indah.
Pulang ke Rumah (Backend)
Di titik itulah aku merenung.
Aku nggak jago bikin tampilan cantik (UI), tapi aku suka memecahkan masalah (Logic). Aku pusing mikirin gradasi warna, tapi aku antusias mikirin alur data.
Ternyata, selama ini aku cuma "salah kamar". Tempatku bukan di Canvas, tapi di Console.
Aku pun memutuskan balik lagi ke dunia koding. Kali ini dengan mental yang lebih siap. Aku berdamai dengan JavaScript (yang ternyata seru kalau udah paham), dan menemukan kenyamanan di dunia Backend.
Sekarang, di sinilah aku. Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Google Student Ambassador, dan seorang developer yang bangga bilang:
"Aku nyerah soal desain, biarin aku urus logic-nya aja."
Ternyata, hobi cari internet gratisan jaman SD itu nggak sia-sia. Itu adalah kursus pemrograman pertamaku, dengan kurikulum terbaik: Kepepet.
Tag
#story, #career, #personal
Tags
Enjoyed this article?