Jangan Bangga Dulu Website Jadi 5 Menit, Sini Kita Ngomong Jujur Tadi pagi aku sempat kepikiran, gila ya, zaman sekarang bikin website cuma butuh waktu buat nyeduh kopi. Tinggal buka AI, ketik prompt "bikin landing page buat jualan kaos", dan boom!—langsung jadi. Estetik, warnanya cakep, animasinya smooth.
Tapi jujurly, pas aku bedah isinya... aku pengen nangis.
Banyak dari kita (termasuk aku dulu) terjebak sama yang namanya "Instant gratification". Kita ngerasa udah jadi tech wizard cuma karena bisa generate kode. Padahal, website yang AI bikin dalam 5 menit itu seringkali cuma "sampah yang dibungkus kado mewah".
Sini, aku ceritain kenapa kamu harus berhenti bangga dulu sama website instanmu itu.
Ini yang sering orang salah paham. Kamu mungkin bangga banget sama palet warna pastel yang kamu dapet dari AI. Tapi dengerin ini: Google Bot itu buta warna.
Dia nggak peduli seberapa artsy websitemu. Dia baca struktur. Kalau strukturmu berantakan, itu kayak kamu ngasih buku ke orang buta tapi huruf Braille-nya acak-adul. Google cuma butuh tag <h1> buat tahu ini bahas apa, tapi kalau sisa kodenya cuma tumpukan <div> (yang sering kita sebut Div Soup), Google bakal mikir: "Ini website apaan sih? Nggak jelas. Skip!"
Hasilnya? SEO audit kamu bakal merah total. Websitemu cuma bakal jadi hiasan di ujung internet yang nggak bakal pernah ditemukan siapapun lewat mesin pencari.
Tahu nggak kenapa AI sering bikin kode yang "ngasal"? Karena dia didesain buat bikin sesuatu yang tampil, bukan sesuatu yang benar.
AI sering banget ngelanggar aturan W3C (World Wide Web Consortium). Mereka lupa naruh Semantic Tags. Bukannya pakai <header>, <main>, atau <footer>, mereka malah hajar pakai <div> semua. Ini fatal. Tanpa tag semantik, aksesibilitas websitemu nol besar. Orang yang pakai screen reader nggak bakal bisa paham isi websitemu.
Enjoyed this article?
Kamu mau bikin solusi digital atau malah bikin hambatan buat orang lain?
Terakhir, soal tulisannya. AI itu jago ngerangkai kata, tapi dia nggak punya hati. Copywriting yang dihasilkan biasanya kaku, terlalu formal, atau malah pakai kata-kata template yang udah jutaan kali dipakai orang lain.
Kalau kamu cuma copy-paste bulet-bulet, user yang baca bakal ngerasa: "Ah, ini mah robot yang ngomong." Nggak ada sentuhan personal, nggak ada story, nggak ada koneksi. Hubunganmu sama calon pembeli putus di titik itu juga.
Aku nggak bilang AI itu buruk. AI itu asisten yang jenius, tapi dia bukan mandor. Kamu mandornya.
<section> dan kapan harus pakai <article>.div yang nggak perlu, benerin hierarki h1 sampai h6.Intinya AI bisa kasih kamu kecepatan, tapi cuma kamu yang bisa kasih kualitas. Jangan mau jadi "Developer Karbitan" yang cuma jago klik tombol generate.